Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti

Tulisan ini adalah sekumpulan kabar setelah beberapa bulan tidak menulis di sini. Seperti biasa, prinsip saya adalah menulis karena butuh. Jadi hari ini, ketika tulisan ini sudah dipublikasikan dan dibaca oleh teman-teman, itu artinya saya sedang merasa butuh; butuh menulis dan membagikannya. Ada -+ 1800 kata yang tertulis di sini. Kalau merasa kepanjangan dan tidak sanggup membacanya, silakan klik close ya.

Btw, judul tulisan diambil dari lagu Banda Neira: Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti — sebuah lagu pengingat kalau segala sesuatu tidak pernah ada yang abadi, kecuali kebaikan.

Prolog.

Saya bingung harus memulai dan merangkum ingatan dari mana ke mana. Selama hampir satu tahun, saya selalu diam saat orang lain di luar sana berisik sekali menanggapi hubungan pribadi saya. Selalu ada keinginan untuk menemui langsung orang-orang semacam ini, dan keinginan itu masih ada sampai sekarang. Saya bukan orang yang meributkan banyak hal di media sosial, karena tidak memberi dampak apapun setidaknya buat saya pribadi. Jadi, pilihannya adalah diam, menyimak. Pernah coba menanggapi satu dua kali, tapi ternyata saya sadar respon tersebut bukan solusi.

Saya selalu berusaha memberi ruang bicara dan ruang penyelesaian dalam hidup. Entah itu kepada diri sendiri, atau melibatkan orang lain. Apa yang mau disampaikan, ya sampaikanlah sampai merasa cukup dan puas. Setelah itu, apa solusinya? Harus bagaimana setelahnya? Kalau hanya fokus dalam bicara terus menerus, ya hidup akan diam di tempat. Tidak kemana-mana. Tidak ada penyelesaian. Menggerutu iya. Sebal iya. negatif thinking terus-terusan iya. Hebat sih, kalau mampu. Saya sih engga.

Bab 1. Keputusan Menikah.

Setelah tepat satu tahun menjalin hubungan dengan seseorang, akhirnya kami menikah. Desember 2019 pacaran, Desember 2020 menikah. Terasa cepat ya? Emang. Karena sejak Desember 2019 saya sudah menolak untuk pacaran tanpa menikah. Saat itu pasangan saya tidak mengiyakan, dia mengupayakan. Saya bantu semampu dan semau saya. Seperti prolog di atas, saya berusaha fokus pada ruang bicara dan solusi.

Apa yang harus dibenahi, benahi.
Apa yang harus diselesaikan, selesaikan.
Apa yang harus diperbaiki, perbaiki.
Ada jalan yang salah, luruskan.
Apa yang bisa diupayakan, mampukan.

Berangkat dari sana setiap harinya, saya dan pasangan terus belajar, berkembang, dan bertumbuh. Sejak mengawali hubungan ini, saya sudah bikin daftar apa saja yang harus diceklis agar hidup hari ini dan hubungan kami tahu arah tujuannya. Catatan daftar kami terus bertambah, dan seiring berjalannya waktu, kami berhasil memberi ceklis pada semua itu. Orang tua kami turut memberi banyak dukungan untuk melangsungkan pernikahan.

Saya lega karena mampu melakukannya.
Tentu pasangan saya punya perasaan yang sama.

Beberapa bulan sebelum menikah, pasangan saya (mungkin tertuju pada saya juga) mendapat pertanyaan secara tidak langsung, apakah kami menikah karena kebablasan? Sebuah pertanyaan lucu yang ingin saya tertawai sampai tua nanti. Saya hidup tanpa seks bebas. Saya menjalani hari dengan cukup baik dengan manusia di sekitar saya. Saya bisa berhati-hati dan sadar untuk tahu batasan menjalin hubungan. Teman-teman saya tahu itu, keluarga saya juga, lalu ada orang tidak dikenal mempertanyaan kenapa kami menikah? Mungkin kebablasan?

Saya menikah karena mau dan sudah merasa siap.

Siap secara emosi, finansial, pikiran, dan masih banyak lainnya.

Jika ada orang di luar sana yang menikah karena kebablasan, silakan. Jika ada orang menganut seks bebas sebelum menikah, silakan. Jika pasangan saya adalah keduanya di masa lalu, saya sudah maafkan. Menerima pasangan saya hari ini adalah menerima dia sepaket dengan masa lalunya. Tapi tidak saya terima jika masih sama kelakuannya. Menerima masa lalu dan menerima hal yang sama di masa kini / masa depan, adalah dua hal yang berbeda.

Jadi, bagi yang mempertanyakan keputusan kami menikah, jawabannya tentu bukan kebablasan. Karena, kenapa harus kebablasan? It’s that you?

Bab 2. Menikah.

Cari tanggal cantik? Engga.
Cari gedung mewah? Engga.
Cari yang ada dan budgetnya masuk.
Selesai.

Sejak awal, saya dan pasangan sepakat untuk akad saja, didukung dengan masa pandemi seperti sekarang, hal ini semakin mudah dilaksanakan. Agar hidup semakin mudah lagi, maka saya minta team wedding organizer (wo) untuk mengurusnya. Untungnya wo yang saya pilih super kooperatif dan bagus dari segi komunikasi. Mereka tahu apa yang kami mau. Sederhana, santai, masuk budget, itu yang penting. Kalau ada hal yang bikin ribet, gak usah ada. Kalau ada hal yang di luar budget, gak usah dimasukin. Esensi dari menikah bukan pesta atau hari H, bagi saya esensi menikah adalah setelah akad berlangsung. Bagaimana kami menjalani hari-harinya besok, minggu depan, bulan depan, tahun depan, dan seterusnya. Bagaimana saya hidup di sana dan bagaimana kami saling menghidupi. Jadi, jauh sebelum memutuskan untuk mempersiapkan pernikahan dengan wo, saya dan pasangan sudah diskusi — tentang segala bentuk pandangan dan kesepakatan perihal: keuangan, pekerjaan, liburan, tempat tinggal, anak, pendidikan, apapun. Pokoknya hal-hal yang menyangkut kami berdua — dari kami hidup di masa kecil, hari ini, dan mempersiapkan banyak hal di masa nanti.

Hari pernikahan terlewati dengan menyenangkan dan hangat. Saya lihat mata kedua orang tua kami penuh haru, saya lihat sepatu sneakers yang sedang dipakai karena heels menyakitkan, saya lihat di jari kami sudah terpasang cincin nikah yang mana mungkin suatu hari dilepas — karena tidak cukup lagi atau hilang, saya lihat tamu yang dikenal bukan tamu yang entah dia siapa, saya lihat diri sendiri, dan mengamini banyak doa dari setiap pemberi.

Banyak yang patut saya syukuri dari pernikahan ini, secara garis besar semua sesuai keinginan saya dan pasangan. Dulu, sejak teman-teman saya satu persatu melaksanakan pernikahan, saya dihantui dengan pikiran apakah saya bisa mempersiapkan pernikahan? Belum lagi undangan kedua orang tua yang jumlahnya pasti tidak sedikit. Saya tidak pernah mau sesuatu yang ribet tentang urusan perayaan, saya selalu berusaha mengupayakan bagaimana pernikahan ini kelak bisa sesuai dengan apa yang ada di pikiran. Sederhana, santai, budget sendiri, benar-benar personal dan intim — bukan mengundang banyak orang tapi saya sendiri tidak kenal mereka.

Hari ini, saat tulisan ini terbit kami sudah melewati hari akad nikah dengan banyak rasa syukur. Terima kasih untuk banyak doa baik yang pernah menghampiri, semoga doa baik juga menyertai kalian semua.

Bab 3. Privasi.

Saya kira, memprivate instagram untuk kedua kalinya adalah ketidakmungkinan dalam hidup. Ternyata saya salah. Beberapa bulan lalu saya memutuskan untuk memprivatenya kembali, yang sebelumnya sudah didahului oleh pasangan saya. Alasannya sederhana, kami ingin hidup dengan nyaman. Tapi gatau kenapa, ketersinggungan orang lain tidak pernah ada habisnya, entah mencari apa. Padahal, kami pun sama tersinggungnya, namun tidak kami perlihatkan. Ada banyak hal yang harus diurus dan dikerjakan daripada terus menerus mengurus ketersinggungan.

Di media sosial, saya jarang membahas kehidupan pribadi. Begitupun pasangan saya. Tapi, ketika kami sekali-kali posting — apapun yang sehubungan dengan kehidupan pribadi, selalu dijadikan “bahan” oleh orang lain. Kenapa?

Update tweet ngaji, dibilang ngajinah (zina).
Update perihal mau menikah, dibilang kebablasan.
Update cerita pakai wo, dibilang kok nikahnya pesta, bukannya gak suka.
Update foto berdua, fotonya diambil.
Update foto pemandangan, fotonya diambil juga.

Alih-alih mengagung-agungkan sebuah hak bebas berpendapat, padahal bisa jadi orang lain ini sedang mengambil hak kebahagiaan diri sendiri. Hidup kami bukan konten. Stop untuk selalu mengurusi hal-hal atas ketidaktahuan dan membuat asumsi kotor di kepala. Stop mencampuri prinsip hidup orang lain, dengan pengalaman diri sendiri. Saya berusaha untuk selalu diam selama setahun ini, tapi kalau privasi saya terus-terusan diusik, sempatkan waktu bertemu duduk bersama — karena hidup saya tidak sepengecut itu untuk berkoar-koar di media sosial.

Kalau merasa, saya tidak ada urusan denganmu, saya berurusan dengan lelakimu.

Terus kenapa mengurusi apa yang diposting di media sosial saya perihal kehidupan pribadi? Hidup jadi komentator emang gampang. Dikasih bahan apa juga bisa dikomenin. Jadi, poinnya adalah berhenti mencampuri urusan pribadi saya, dan untuk urusan di belakang yang belum selesai, waktu dan tempat saya persilakan. Mari sama-sama berani bertanggung jawab atas apa yang ditulis dan disampaikan, jangan hanya bermodal keberanian dan keresahan hati.

Atau, kalau menganggap, emang tulisan saya tentang kamu dan pasangan kamu? Bukan ya!

Tanpa memberi nama, tanpa memblur foto, tanpa meng-crop foto, saya dan pasangan pun tahu. Tidak perlu merasa seolah-olah menutup rumah sendiri padahal rumahnya tidak ada pintu dan jendela. Tidak perlu mengatasnamakan “kalau saya jahat, saya udah blablabla” — untuk melakukan sebuah kebaikan. Jadi, seandainya saya yang terlalu geer untuk merasa itu untuk siapa dan kenapa, sekali lagi waktu dan tempat saya persilakan dalam dunia nyata.

Bab 4. Pertemanan.

Kita selalu benar menurut cerita versi kita.

Tidak perlu menjadi apa dan siapa, persepsi kebenaran akan tetap begitu saja, ada di pikiran, hati, tanpa tahu sendiri — emang kebenaran apa yang dicari dan dipertanyakan? Apakah kebenaran atau pembenaran?

Saya tidak mencari keduanya. Saya tidak butuh pengakuan siapa yang benar, siapa yang salah. Semua ada di tempatnya. Gesernya pandangan juga terjadi karena berbagai macam hal: bagaimana seseorang menyampaikan maksud, pengalaman, juga sejauh mana kepercayaan kita larut di dalamnya. Seandainya ada teman-teman yang saya kenal, menggeser sebuah pandangan ke saya, mempunyai sudut pandang baru — karena menerima informasi antah berantah tentang saya (juga pasangan saya), silakan.

Tapi yang pasti, tidak pernah ada kata permusuhan di hidup saya. Sewaktu H-7 pernikahan, nama kami disenggol lagi di media sosial, secara pribadi saya langsung menanyai langsung ke orang yang bersangkutan. Hasilnya nihil. Orang-orang pengecut yang berani berbicara di depan layar, berkoar-koar mencari teman sepemikiran, kemudian berhenti saat disapa langsung. Seolah-olah tidak mau mencari keributan, namun sudah. Seperti diam, tapi kata dan tangan bekerja terus menerus mengurusi hidup orang lain tanpa henti berhari-hari.

Di tulisan bulan Maret 2020, saya pernah menulis dari apa yang saya baca:

1 berita yang kita posting dan sebar, bisa dibaca dan dipercaya sama 1000 orang. Tapi saat kita klarifikasi berita tersebut, belum tentu 1000 orang yang sama akan dapat kebenarannya.

Mengomentari hidup orang lain, termasuk teman sendiri memang begitu mudah — kadang lupa dengan hidup diri sendiri yang tidak terurus dan begitu-gitu saja. Berhati-hatilah dengan kata-kata. Bisa jadi luka semakin dalam karena diri sendiri yang sengaja melukai berkali-kali.

Bab 5. Blog jalanhorebandung.com

Melanjutkan mengenai privasi, selain memprivate akun instagram. Saat ini saya dan pasangan sudah tidak memiliki akun twitter personal dikarenakan alasan yang sama: ketidaknyamanan. Maka, pindahlah kami dengan akun twitter @jalanhorebdg — yang dikelola berdua sebagai akun media sosial dari blog yang selama lima tahun ini saya kerjakan: jalanhorebandung.com. Setelah menikah, pasangan saya — Firman, resmi menjadi partner dalam mengurus blog ini. Dia langsung sibuk mengurusi settingan, sedangkan saya sibuk mengurus konten. Saya senang karena produktivitas setelah menikah meningkat walaupun kami tahu, hal ini dikarenakan banyak hari libur yang di akhir tahun. Tapi gak masalah, blog selalu menjadi tempat saya bersenang-senang. Jadi ketika suatu hari nanti kami akan sibuk dan blog tersebut tidak terurus, maka kami sadar bahwa sejak awal memang begitulah memberi kesenangan diri sendiri.

Gambar di atas adalah tampilan blog jalanhore yang baru, selama lima tahun saya tidak pernah mengganti tema blog dan baru kemarin akhirnya diganti. Bagi teman-teman yang mau mampir silakan kunjungi langsung ya. Semoga perubahan yang terjadi di kehidupan saya, Firman, atau apapun yang menyangkut kami berdua (seperti blog ini) — adalah sesuatu yang baik dan terus begitu. Juga semoga blognya bisa semakin berkembang dan bertumbuh sesuai dengan banyak harap yang sudah sering saya ucapkan sambil rebahan dan ketawa-ketawa.

Epilog.

Saya tidak mau menghancurkan harga diri sendiri. Sebagai seorang manusia, perempuan, teman, anak, istri, saya patut merasa bangga dari apa yang sudah saya lakukan sampai hari ini. Jadi, ketika ada yang mencoba menggesek salah satu elemen kehidupan dan saya tidak mengiyakannya — mungkin tulisan ini adalah jawabannya. Ini tulisan pertama untuk menjawab ada apa sebenarnya selama tahun 2020 dan bagaimana saya menanggapi berbagai omongan bodoh yang orang lain lontarkan di media sosial kepada saya. Tapi juga ini adalah tulisan terakhir di 2020 yang mau saya tutup dengan berbagi banyak kebahagiaan. Terima kasih teman-teman, salam sayang untuk semua yang sudah berkenan membaca sampai ujung tulisan. Sampai bertemu di tulisan lainnya. Doa baik menyertai kalian semua. Semoga setiap jejak di tulisan ini bisa berbuah kebaikan dan setiap alfa bisa termaafkan. Terima kasih.

16 thoughts on “Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti

    • AGA! KEMANA AJA? Kenapa menghilang dari banyak halaman? Semoga kamu dalam keadaan sehat baik fisik ataupun psikis ya. Terima kasih ucapannya, semoga doa baik menyertai kamu juga.

      Like

  1. Pasti selalu ada orang yang sirik, negatif … dan Sok Tahu … juga pengecut
    Sebagai orang yang “waras” … kita bawa selow aja
    Btw … Semoga menjadi keluarga yang samawa yang neng
    And welcome to the jungle … 🙂

    Like

    • Kalimat “yang waras ngalah” emang benar adanya apa ya kang? Hehehe. Terima kasih ucapan dan doanya, semoga doa baik menyertai akang dan keluarga juga! 😀

      Like

  2. Selamat untuk Fasya dan Firman. Jadilah keluarga Sakinah, Mawaddah dan Warahmah. Doa baik untuk kalian. Berprinsip sabodo teuing dengan orang lain yang mau mencampuri urusan hidup kita.

    Sehat dan bahagia selalu.

    Like

    • Halo mas Alris, terima kasih doa dan ucapannya. Semoga doa baik menyertai mas juga ya!

      Iya nih prinsip sabodo teuing kadang2 emang harus dipake, biar gak stress hahahaha

      Like

  3. Selamat Menikah Mbak Fasy dan suami. Langgeng terus dan sehat selalu.Terus melangkah sesuai dengan apa yang kaki mau.Orang lain boleh berkomentar, telinga boleh mendengar, tapi bagaimana menyikapinya adalah pilihan kita.Abaikan ae kalau bikin pusyang.Doaku yang baik-baik untuk kalian.

    Like

  4. Selamat buat Fasya dan Firman atas pernikahannya. Doa-doa baik saya ucapkan dalam hati tanpa perlu menuliskannya lagi di sini.

    Entah kenapa mata saya berkaca-kaca waktu baca ini. Bisa dibilang saya mengikuti drama yang Teteh maksud secara tak sengaja, terus memilih diam dan tak mau percaya gitu aja, apalagi memihak siapa-siapa karena saya memang tak tahu apa-apa. Saya cuma bisa mendoakan yang terbaik buat semua pihak.

    Tapi sumpah itu yang ngomong nikah karena kebablasan kok jahat pisan. Waktu saya dianggap mesum betulan sama seorang cewek pas dulu bego banget bikin citra buruk aja sedih lho. Haha. Sempet-sempetnya si tai curhat gini.

    Netizen memang jari atau mulutnya sembarangan aja ya. 😦

    Sebetulnya sedih juga enggak bisa hadir, padahal waktu pertama kali tahu kabarnya ingin dan sempat bilang akan datang. Namun, ya kondisi masih memble begini. Jadi terpaksa memilih di rumah aja.

    Saya pernah coba berkunjung ke blog yang jalanhore, terus baca yang tulisan Firman apa ya. Konyol banget yang air mineral pun diulas sama dia. XD

    Liked by 1 person

    • Pertama, terima kasih ucapannya karena aku pun cuma bisa bilang itu dan mendoakan balik yang baik2 untuk kamu.

      Kedua, terima kasih karena tetap menjalani kehidupanmu sendiri tanpa mengusik “drama” yang dimaksud. Aku gamau bahas di kolom komentar juga, cuma menurut pandanganku sikap kamu cukup benar untuk tetap diam. Karena secara personal, hubungan aku dan kamu pun baik2 aja. Jadi urusan di luar sana, yaaa yaudah~

      Hehehehehe dibilang nikah karena kebablasan tuh gak ngerti ya aku juga. Sedih iya, marah iya, ketawa iya, tapi yauda aku diem lagi aja soalnya bingung harus merespon apa. Btw, waktu dulu aku pernah bilang juga deh kalau tulisan kamu mesum hahahaha tapi seiring berjalannya waktu aku ga bilang gitu lagi karena tulisanmu berubah dengan sendirinya. Jadi ya sama, urusan citra buruk ini juga gitu yog, seiring berjalannya waktu akan hilang kalau emang faktanya gak demikian. Gitu aja aku mah mikirnya. Soalnya kan emang engga kebablasan, ya gimana dong? 🥳

      Padahal waltu itu coba ngobrol kenapanya sama Firman, pasti kita bantuin cari solusinya kalau emang mau dateng. Cuma yauda gak masalah sih dateng atau enggak mah, terlebih lagi pandemi juga jangan dipaksain. Tetap sehat aja di sana yog!

      Air mineral pake dibahas segala emang begitulah dia, bahkan dia sempet komen “ini fotonya bagus karena warna botol air mineralnya sama kaya warna kutek kamu”. Untung bagian itu gak dijadiin tulisan juga sih, karena ya buat apeee, ngadi-ngadi.

      Aku balesnya panjang amat btw. Ah yaudalaya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s