Normal Yang Baru

Sudah dua minggu saya di rumah karena kantor libur, dan hari ini kantor menambah jatah libur sampai dua minggu kedepan, alias sampai pertengahan April. Buat saya, bekerja dari rumah ini beban kerjaannya sedikit tapi melelahkannya lebih banyak. Mungkin karena ruang geraknya kecil, jadi kerasanya seperti punya energi banyak tapi tidak tersalurkan gitu. Hmm bentar, jadi saya anaknya banyak gerak apa gimana ya? Ya pokoknya, sebagai anak rumahan yang bosenan, mengurung diri di rumah seperti ini cukup menyiksa batin. Ceilah.

normal yang baru

Selama di rumah, tentu saya baca berita mengenai covid 19 dan rasanya kaya dibercandain sama hidup. Sesekali ada harapan, sesekali harapannya hilang. Hari ini dapat kabar kalau pasien positif covid 19 ada kemungkinan untuk sembuh. Udah tenang tuh. Eh besoknya dapet kabar, sembuhnya pasien covid 19 akan tetap merusak sistem pernapasan. Hal yang lainnya, hari ini dapat kabar kalau masker itu dipakai untuk orang yang sakit aja supaya gak menular ke orang yang sehat. Besoknya dapat kabar, kalau covid 19 gak cuma ditularkan dengan droplet, tapi juga udara, jadi semua orang lebih aman jika memakai masker. OMG. Hamba nih sehari tenang, besok engga. Ada berita alih-alih menenangkan, tapi malah semakin meresahkan.

Gak cuma itu. Hal-hal di luar sana, ternyata banyak yang lebih buruk.

WHO menegur warga Indonesia bahwa disinfektan spray bukan untuk disemprot ke anggota tubuh. Tapi orang terlanjur beli, terlanjur mendapati tanpa benar-benar tahu fungsi. Hand sanitizer dibeli banyak untuk stock diri sendiri, tapi merk terkenal sudah habis di pasaran. Tidak apa-apa, hand sanitizer bisa dibuat oleh siapa saja, komposisinya begini begitu, selesai kemudian bungkus, dan siap jual. Kemasan kecil, kemasan besar, kemasan isi ulang. Embel-embel komposisi alkohol 70% sudah bikin hati aman untuk melindungi diri dari ancaman virus. Lagi-lagi, membenarkan apa yang sebenarnya tidak diketahui. Sudah menyebar, sudah terjual, kemudian menggantung di halaman media, bahwa hand sanitizer homemade ini tidak direkomendasikan karena berbahaya. Tapi, terlanjur sudah. Namanya juga gak tahu ya? Iya, namanya juga tidak mencari tahu ya. Gakpapa deh. Manusia kan banyak salahnya. Iya, banyak juga otak cuannya. Salah ramean. Benar diam-diam.

Kabar miring yang kita biarkan
Lurus dengan sendirinya
Kebenaran yang diamini
Benar dengan sendirinya
Karena kita biarkan
Jadi normal yang baru

Karena kita diamkan
Menjadi normal yang baru
Menjadi nilai yang baru
Menjadi pegangan baru
Menjadi haluan baru

 

Saya pernah baca, begini: 1 berita yang kita posting, bisa dibaca dan dipercaya sama 1000 orang. Tapi saat kita klarifikasi berita tersebut, belum tentu 1000 orang yang sama akan dapat kebenarannya. Jadi, harusnya saat sekarang kita gak cuma sekadar menerima dan menelan informasi. Saya tahu sih, manusia hanya mempercayai apa yang mau dia percaya. Artinya, kalau dia rasa itu tidak benar, tentu tidak akan dia percaya. Silakan aja sih. Tapi, coba berhenti untuk mengajak orang lain menerima kepercayaan itu. Apalagi untuk mendapatkan keuntungan dari apa yang sebenarnya tidak diketahui.

Untuk segala jenis normal yang baru di segala polemik covid 19, entah itu sebuah berita atau opini, entah itu kegiatan yang dilakukan selama dua minggu ke belakang, atau yang akan dilakukan untuk dua minggu ke depan – semoga kita semua masih sanggup bertahan. Banyak pekerjaan di depan mata yang menanti. Banyak pertemuan yang sudah batal terlewati. Banyak uang yang tiba-tiba kepakai padahal diam di rumah, ya Allah ini mah karena saya belanja online mulu. Ya abis gimana, lagi rebahan tinggal transfer kan keenakan ya.

Stay safe and stay healthy, teman-teman.

————————-

Tulisan pendek tentang Menyelami Kekhawatiran di fase hidup covid 19 yang pernah saya tulis di instagram. Kenapa saya share di sini? Ya gapapa, mau aja 🙂

View this post on Instagram

Menyelami Kekhawatiran. Setiap bangun pagi, aku membiasakan (juga menyempatkan) baca berita terbaru yang terjadi hari ini. Ada apa dan kenapa. Bagaimana dan kapan. Termasuk, perihal covid-19. Mungkin aku gak banyak tahu karena sering gak baca full atau baca dengan buru-buru. Bisa jadi, daftar bacaanku gak sebanyak teman-teman, atau bisa jadi mataku lebih banyak baca isi chat wasap daripada baca buku atau artikel. Wasap yang terus menerus masuk bikin aku beneran kerja macem customer service sekaligus call centre. Sebel. Sedikit. Tapi, masuk ke dalam diri yang lebih banyak bodoh dan tidak tahunya — aku sadar bahwa ada yang gak beres di luar sana dan akan selesai kalau semua mau sama-sama membantu. Dari yang muda sampai tua. Dari yang miskin aja sampai miskin banget. Termasuk miskin ilmu, miskin kesadaran. Membenarkan pola pikir diri sendiri, seperti celoteh Arie Untung hari ini. Miris. Kelaparan dibandingkan dengan covid-19. Ya beda. Kelaparan tidak menular melalui udara atau droplet. Tolonglah. Tolong perhatikan bahwa kematian di Indonesia karena covid-19 paling tinggi di Asia Tenggara. Tolong tidak egois dengan memberi kesenangan diri untuk berwisata dan menghampiri keramaian dengan sengaja dan sadar. Tolong camkan ke dalam diri, bahwa kalau kamu sakit akan merepotkan kehidupan sosial, keuangan kamu, merugikan waktu untuk diri sendiri, dan tentu saja merugikan orang lain di dekat kamu karena bisa jadi ikutan sakit. Tolong tidak menjadi selalu miskin kepedulian. Semalam, aku bercerita sama teman yang akhirnya disepakati bahwa, aku dan dia seperti tidak punya harapan hidup karena lingkungan yang tidak mendukung, karena lingkungan tidak turut peduli. Aku masih mau hidup dan mau orang sekitarku begitu. Jadi, sama-sama ya. Kalau takdir kematian kamu percayakan sama Tuhan, kamu juga harus percaya ikhtiar yang dianjurkan Tuhan. Terima kasih.

A post shared by Fasya (@fasyaulia) on

Bagi siapapun yang berkunjung ke tulisan saya di sini atau di blog jalan hore bandung, kalian sudah bisa dukung via saweria.  Minimal Rp. 10.000 bisa bayar dengan gopay / ovo / dana.

Klik disini untuk beri dukungan.

30 thoughts on “Normal Yang Baru

  1. Bener banget mba Fasya. Sehari tenang, besoknya was was lagi.

    Aku udh sampe ke titik dimana mungkin sebenernya badanku ga kenapa kenapa tapi jadi mendadak panas dan gaenak badan gara-gara stress kepikiran sama berita yang ada 😦

    Anyway, semoga mba Fasya sehat selalu ya di Bandug 🖤

    Like

    • Aku juga waktu sempet keluar rumah karena kerjaan, batuk dikit parno, ada yang batuk dan flu langsung aku suruh jauh-jauh, sakit kepala doang sampe nyari ada hubungannya sama corona apa engga. Ya Allah, masih mau idupppp.

      Sehat selalu Nadya juga, supaya bisa jalan2 dan jepret2 lagi ❤

      Like

      • Hahaha bener bgt sih mba. Pusing dikit pasti lgsg dihubung-hubungin sama Corona padahal mah bisa aja kan karena duit abis. Aku juga tiap ada temenku yang batuk/bersin aku langsung pelototin hahahaha. Tp khirnya kalo pas aku pengen batuk jd agak gimana gitu karena takut dipelototin juga.

        Huhuhu I want my previous kind of normal life back.

        Like

  2. Pada tahap-tahap tertentu udah bikin panik. Sampe psikosomatis. Sekarang udah cuek-cuek dengan berita perkembangannya. Karena edukasi tindakan preventif persebaran virus rasanya udah menjadi normal yang baru.

    Like

    • Minggu pertama panik karena orang-orang malah berwisata. Minggu kedua panik karena orang-orang malah mudik. Ini sekarang minggu ketiga nih, aku mau simpan energi untuk berharap supaya aku dan keluarga tetap sehat dan dijauhkan dari virus. Dah ah gitu aja. Pusing mikirin yang bandel di luar sana mas. Kadang sampe mikir, yauda kalau pada mati dan mengiyakan keadaan “normal” versi mereka, yauda, ya-u-da.

      Astaga, saking keselnya ini tuh hahaha.

      Like

  3. Anak rumahan yang bosenan
    Akhirnya gue bisa menemukan kata yang pas menggambarkan diri gue.

    Berita di Indonesia, yg menunjukkan bahwa Indonesia menjadi negara terbanyak yg mengalami kematian dari virus ini, bikin orang kyak gue, yg nge rantau, jdi khawatir dengan keadaan orang di rumah. Apalagi dgan cepatnya beredar berita hoax.

    Pas awal-awal malah dibecandain lagi virus ini. Ga paham lagi deh.

    Semoga semuanya cepet pulih lagi
    Amin

    Like

    • Jadi kita sama nih sebagai anak rumahan yang bosenan? Mau toss kaga nih? Hahaha.

      Kamu yang jauh sama keluarga, khawatir sama mereka. Aku yang tiap hari deket dan serumah sama keluarga, khawatir akan keselamatan diri sendiri. Ini mama bapak minggu pertama social distancing tetep joging, tetep ke mesjid, tetep pergi-pergian. Wow tidak mau marah aku tuhhhh.

      Aaamiin, semoga semua segera berakhir, soalnya dah kangen nongkrong ngabisin duit. Wadaw.

      Like

  4. Yang masalah handsanitizer buatan sendiri kurang efektif, saya baru tahu ini malah. Padahal kan itu setelah ada kasus corona di Indonesia dan handsanitizer bermerk mulai langka, info ttg pembuatannya langsung viral dan gampang banget ditemuin di semua media sosial.

    Nggak kemana-mana tapi duit ilang adalah sebuah keniscayaan. Saya habisnya karena grabfood sih. Secara, warung makan langganan deket kosan udah pada tutup (T_T)

    Like

    • Nah itu, karena langka jadi ramai-ramai bikin sendiri. Ya kalau mau bikin sendiri untuk konsumsi sendiri silakan ya, dia bisa menanggungnya kalau ada apa2. Nah ini, yang otaknya cuan sok-sok-an bikin, terus merasa layak jual tanpa tau komposisinya bener apa engga terus maen jual2 aja, dimahalin pula. Hadeeeh.

      Aku selama dua minggu di rumah belum grabfud dan gofud nih, malah belanja yang lain-lain terus. Kemarin mau grabfud karena disc 50%, eh bandung dari siang ampe malem ujan muluuuuuu. Gajadi deh~

      Like

  5. Kak Fasya suka Efek Rumah Kaca juga ya? Sama. Aku suka Efek Rumah Kaca sejak SMP yang waktu itu lagunya masih Kenakalan Remaja di Era Informatika. Masih suka dengerin sampe sekarang. Bagus lagunya, dulu dengerin di MTV sambil makan siang pulang sekolah. Biasanya sih sambil makan ayam KFC. Sekarang lagi ada diskon tuh KFC yang paket keluarga cuma 54 ribu. Jangan disia-siakan kesempatannya, Kak. Kapan lagi kan bisa dapat diskon gede gitu dari KFC Jagonya Ayam.

    Like

  6. Soal berita Corona itu, kian ke sini saya mute aja biar tenteram. Pikiran cemas mulu yang ada. Akhir-akhir ini juga enggak coba buka media sosial lagi. Oh, itu mah emang krisis kuota. Ahaha.

    Sejak ada wabah, saya enggak tau kenapa mulai merasa bingung sama perasaan sendiri. Waktu ada wawancara yang batal, terus kerja sama menulis juga, mestinya kan sedih. Ini saya biasa aja gitu. Aneh. Habis gimana ya, kalau mau marah maki-makinya ke siapa? Mau sedih juga sulit banget. Tapi anehnya lagi, energi justru jadi gampang terkuras.

    Februari kayaknya masih baik-baik aja. Kini suram betul.

    Iya ya, pada latah beli hand sanitizer. Terus ternyata yang dibeli produk gadungan, bikin thread deh. Soal berita masker yang katanya cuma buat orang sakit, bikin saya enggak jadi beli pas awal-awal. Terus begitu ada info baru, akhirnya udah kehabisan dan sampai hari ini enggak dapat masker satu pun. Jadinya cuma bisa di rumah cari aman. Sialnya, kali ini saya jadi gampang bosan. Kalau keadaan lagi biasa-biasa aja, saya mah bisa betah banget di rumah. Mau baca buku atau nulis pun selalu gagal fokus. Mungkin wajar kali ya, otak sulit berkonsentrasi di situasi begini?

    Sehat-sehat ya, Teh Fasya. 🙂

    Like

    • Sini aku isiin kuotanya Yog biar di rumah lebih enjoy~ ke nomer yang belakangnya 07 kan?

      Energi terkuras itu kayanya karena gak tersalurkan deh Yog, tersalurkannya cuma pas kamu nulis doang. Mungkin. Aku mah sotoy aja dulu wkwk.

      Wah Yog walaupun tetap di rumah, sedia masker lah minimal 1 masker kain, kan gatau kalau tiba2 harus keluar rumah karena satu hal. Nah itu, kayanya karena situasi lagi begini jadi gak ngerasa aman Yog, mau ngapa2in juga bosan atau gagal fokus. Sama sih aku juga gitu. Diem di rumah bisa banget, tapi diem di rumah sebulan full tanpa akses kemana-mana bikin pikiran capek karena hal yg dilakuin dan ruangan yang dilalui itu lagi itu lagi. Makanya orang kalau jenuh milih liburan ya, karena emang meredakan kejenuhan. Ceilah.

      Yaudalah abis corona kelar, w liburan deh! Hahahaha sok-sok-an 😛

      Yoga juga sehat-sehat ya! Semoga segera tetap mengalir rezekinya, termasuk rezeki kesehatan.

      Like

      • Iya, nomor saya TSel yang akhirannya itu. Tapi enggak usahlah, Teh. Haha. Ngerepotin aja.

        Apalagi udah sebulan ini enggak nulis benar-benar dari awal. Cuma meneruskan dan menyunting draf-draf lama. Energinya jadi menguap entah ke mana.

        Rencananya juga mau beli, tapi lihat harga di toko online kok pada semena-mena. Nanti kalau terpaksa keluar palingan bakal pakai slayer gitu, sih.

        Aamiin ya, Rabb.

        Like

  7. saking lamanya gak blogwalking, aku ampe lupa kolom komennya sebelah mana wkwkwk. Fasya stay safe yah. Aku paham banget bagaimana bikin depresinya keadaan ini. Aku sendiri masih harus shift2 untuk WFH, seminggu ngantor seminggu WFH. Depresi banget tiap baca berita, aku sampe deactivate akun twitter saking depresifnya informasi tiap hari yg aku terima. Semoga keadaan segera membaik yah, aku capek banget tiap pulang kantor langsung mandi dan cuci baju *curhat

    Like

    • Anda becanda aja pake lupa kolom komennya dimana wkwkwk bodo amat ah!

      Btw, kamu masih masuk kerja? Ya ampun sehat-sehat yaa. Tetap pertahankan perbekalan memakai tupperware hello kitty ya, jangan banyak jajan di luar sist.

      Kamu kangen curhat ya? Sini aku bisikin sesuatu… “nulis blog lagi gih! tahun 2020 kue jahe dot kom belom nulis apapun” hahahahahaha.

      Like

  8. Postingannya bagus. Saya setuju sih, hidup emang kaya dibercandain ya haha. Awalnya tenang besoknya udah waswas lagi. Hmm. Kebanyakan baca berita juga pusing sendiri. Awal-awal saya masih rajin ngikutin, minggu ini udah jarang sih. Penat. Apalagi masyarakat juga yang awalnya melakukan imbauan jadi seakan cuek lagi, antara bosan atau memang karena kebutuhan.

    Like

    • Hai Hanna. Salam kenal ya.

      Nah itu, katanya jalan raya udah kembali padat. Semenjak dianjurkan pake masker saat keluar rumah, kayanya udah pada mulai berani keluar rumah sih. Aku pun masih sempet keluar rumah 3x, itupun karena urusan pekerjaan dan donasi. Selebihnya ya engga, meningan di rumah daripada kenapa2.

      Like

  9. Gue cuma ngangguk2 aja baca ini. Mulai dari berita yang ganti2 (karena kita semua nggak ada yang tahu pasti virus ini makhluk apaan) sampe soal klarifikasi. Hohoho. Stay safe ya, Fasya! Biar bisa main lagi kita. Cihuuuy.

    Like

  10. Namanya juga virus baru ya, jadi emang banyak yang nggak tau dan mencoba menerka-nerka. Pernah baca juga di Vietnam kalo ngga salah pemerintahnya nyiapin ruang semprot disinfektan di beberapa tempat umum dan itu dianggap keren banget. Semakin kesini begitu Indonesia udah mulai ikut2an eh katanya nggak banyak ngefek hal seperti itu. Bener2 harus update rajin berita terus…

    Tapi ya semoga musibah ini bisa segera berakhir, bosen juga di rumah terus tiap hari

    Like

    • Nah saat beberapa orang milih menghindari berita, justru aku mau tetap update gimana perkembangannya. Setidaknya berita-berita yang salah awalnya, jadi tau kebenarannya.

      Aamiin. Semoga tetap sehat sampai virusnya berakhir ya.

      Like

  11. The new normal. Memang penyesuaian banyak banget terjadi di segala bidang. Saat-saat yang berat yang harus dilalui semua orang memang. Teman cerita, bapak driver taksinya dia bilang ini pasti akan ada perubahan tatanan dunia. Dan soal kebersihan salah satunya. Dulu kita terlalu cuek bahkan untuk cuci tangan dari toilet. Alah monmaap malah ngoceh ga jelas 🙏🏼

    Like

    • Gapapa mas, kolom komen aku boleh dipake ngoceh kok hehehe.

      Iya, kenapa aku ngerasa normal yang baru, ya karena gak mungkin wabah ini hilang dalam 1 atau 2 bulan, terus kita semua bisa hidup lagi seperti beberapa bulan sebelumnya atau seperti 2019 misalnya. Seengganya kayanya minimal 6 bulan kali ya, kaliiii. Dan kedepannya pasti akan ada banyak hal yang menuntut manusia untuk berubah. Keramaian2 juga mungkin jadi dibatasi karena orang ada kekhawatiran. Orang juga jadi lebih aware sama kesehatan dan kebersihannya karena sudah dibiasakan.

      Aku rasa, kita semua gak menunggu wabah ini selesai, tapi nunggu wabah ini mereda, dan cari cara buat hidup di era normal yang baru.

      Wow aku ikutan ngoceh juga.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s