Berteman (Tidak) Sebatas Konten

Tulisan ini untuk menanggapi tulisan Lim Suandi.

————–

Sebelum membaca tulisan ini, teman-teman gak perlu dalam keadaan berlapang dada dan pikiran terbuka. Soalnya, diterima atau tidaknya tulisan ini, siapa yang peduli? Saya? Engga. Saya gak berharap tulisan ini diterima seluruh teman yang berkunjung. Karena, jika saya sekadar menyampaikan pendapat, artinya saya yang harus berlapang dada jika nantinya akan banyak perbedaan pendapat atau pemikiran.

Orang yang mau baca kok disuruh berlapang dada, ngatur~

Berteman tidak sekadar konten

1. Pertemanan Bloger Hanya Sebatas Konten Menarik.

(( hanya ))

Saya jelasin dulu, konten yang saya tuju ada dua : konten blog dan konten medsos.

Pertama. Semua bloger tentu punya konten, berupa tulisan. Menarik atau engga, tergantung persepsi pembaca. Kalau kata pembaca tulisannya gak menarik, ya terus mau dipaksa buat suka dan harus bilang wooow saya tertarik sama tulisanmu. Ngapain? Ngasih pujian kok berbohong. Untuk mencari teman sesama bloger, yaudah gih tinggal temenan aja. Follow blognya, kemudian say hay di kolom komen. Biasanya, dengan begitu kebanyakan bloger akan berkunjung balik.

Kedua. Kalau mau berlanjut berteman di media sosial, ya silahkan. Kamu follow, kemudian difollback atau tidak, lihat nanti. Respon saya pribadi, ketika ada yang follow, saya lihat dulu kontennya, lihat teman-temannya, lihat informasi apa yang biasa dia bagikan. Gak serta merta maen polbek hanya karena bio bertuliskan bloger.

Jujur, banyak temen blog yang kontennya gak saya suka, misal : tulisannya kepanjangan, blognya di-isi lagu, foto jepretan buat blognya asal-asalan, dsb. Namun, walau demikian saya tidak serta merta menjadi tidak suka dengan orang tersebut, kita tetap berteman, sesekali meninggalkan komentar, atau kalau lagi males ya udah gak mampir blognya, gak saya baca tulisan terbarunya.

Menarik ini subjektif.

Bisa jadi, blog sayapun tidak menarik buat orang lain. Tapi, ada juga yang tetap suka dan merasa bermanfaat. Saya tetap menulis, tapi tidak menjadi rendah diri karena ada yang tidak suka.

Menurut Lim Suandi di tulisan blognya,

“Mau bertanya kepada yang punya kontennya menarik nggak direspon. Karena setelah mereka melihat konten kamu tidak menarik. Sebenarnya nggak ada masalahnya sih untuk memberikan saran tanpa harus menunggu kontennya menarik.”

Saya butuh suatu saran artinya saya yang nyamperin. Gak dikasih saran, cari lagi orang lain – yang membaca tulisan saya dan sekiranya mau memberi saran untuk saya. Kemudian, kalimat “gak ada masalah untuk memberikan saran dan gak perlu nunggu kontennya menarik”. Ini gak setuju sih. Kebayang misalnya, saya gak tertarik dengan film anime, buat saya anime gak menarik, terus saya diharuskan ngasih saran untuk film anime. Gimana coba?

2. Mengapa Tidak Saling Mendukung?

Saling berarti dua arah, berbalasan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa untuk merasa senang dan lanjut nulis blog harus punya pembaca, bukan harus punya teman yang saling mendukung atau terhubung di sosial media. Ada banyak teman blog yang sudah berteman di instagram / twitter, tapi bisa jadi mereka tidak baca tulisan saya, tidak turut mengisi kolom komentar di blog saya. Dia tetap dengan instastorynya, saya tetap dengan instastory saya. Dia tetap ngetweet aiueo, saya tetap ngetweet vwxyz.

Jadi, untuk melanjutkan menulis blog, ya tinggal nulis.

Nyatanya tidak semudah demikian. Beberapa orang memilih untuk pura-pura memiliki banyak teman, pura-pura seolah mendapat dukungan dan sekadar follow siapapun itu yang penting profesinya sama ; bloger. Padahal, pada tahap proses untuk membuat konten menarik – berlangsung setiap kali kita mau nulis. Bukan dari rentang waktu sudah berapa lama ngeblog. Bukan dari bloger lama atau baru. Bukan dari orang lain, bukan dari pendukung, tapi dari diri sendiri.

3. Benarkah Bloger Hanya Berteman dengan Orang yang Ia Kenal?

Pernah gak teman-teman berpikir, ketika memutuskan masuk ke dunia maya, artinya sudah memutuskan untuk memilih dan menyaring secara sadar dengan siapa kamu ingin terkoneksi. Siapa yang kamu follow, adalah sebagian yang mencerminkan kamu.

Ingin terkoneksi. Artinya ada keinginan yang keluar dari diri kamu sendiri.

Siapa yang kamu follow tersebut, akan memberikan banyak informasi di timeline kamu, memberikan percakapan, foto, video, juga teks – yang akan kamu konsumsi setiap hari. Walaupun dia seorang bloger, dia tidak akan melulu menuliskan hal-hal perihal blogging. Jadi, kalau saya, tentu akan memilih siapa yang saya follow. Gunanya, ya untuk informasi yang saya dapat.

Ketemu atau belum, kenal langsung atau tidak, teman satu profesi atau bukan, memang saya sendiri yang harus memberi kontrol terhadap konten yang akan saya lihat.

Misalnya kamu tidak? Silahkan.

Misalnya kamu gak dapat follback? Jangan ngeluh.

4. Masalah Saling Follow Hak Pribadi dan Referensi Individu.

Waktu awal-awal saya ngeblog, saya memilih teman.

Jadi kalimat “mana pernah ada bloger pemula yang milih-milih teman“, kata Lim Suandi di blog-nya, sudah jelas tidak tepat.

Follower blog saya dulu nol, artinya saya gak punya teman di ranah blog ini.

Tapi kemudian, ketika mendapatkan 100 follower di blog, apakah 100 akun tersebut saya follow balik? Engga. Apakah semuanya saya kunjungi dan saya turut berikan komentar di postingannya? Saya tentu memilih.

me·mi·lih v 1 : menentukan (mengambil dan sebagainya) sesuatu yang dianggap sesuai dengan kesukaan (selera dan sebagainya).

Kalau kamu melakukan sesuatu tanpa memilih, memasrahkan segala hal yang terjadi di depan kamu, maka pikiranmu ya akan demikian. Pikiran yang merasa bahwa orang lain yang berani bersikap untuk memilih, adalah kesalahan. Kan, sudah tahu hak pribadi, kok masih nanya dan ngarep di follow?

Tambahan juga nih, kalau kamu merasa seseorang sudah mampu meng-influence banyak orang, jangan beranggapan bahwa orang tersebut jadi sulit diajak berteman.

5. Setuju Nggak dengan Kata “Kita Bloger Hanya Se-Profesi, Tapi Belum Tentu Menjadi Teman”?

Tulisan judul paragraf di atas, saya ambil dari blog mas Lim Suandi.

Maaf, membedakan kata dan kalimat aja, kamu belum bisa, mas.

Saya percaya, bukan belum bisa, tapi lupa dan tidak terbiasa. Mungkin.

Tapi, tidak membaca ulang tulisan sendiri yang akan dipublish dan orang lain akan membacanya, kemungkinan kamu tidak melakukannya.

Pemalas.

Terburu-buru.

Kemudian memberanikan diri untuk menulis sebuah fenomena berteman sebatas konten – yang isinya demikian. Maaf, fenomena?

Informasi yang saya ulang buat mas Lim Suandi. Sudah pernah saya tulis di twitter.

Bagi saya, sesama profesi (tidak) termasuk teman.

Di dunia ini banyak bloger, ribuan atau mungkin puluhan ribu, saya gatau. Tapi karena satu profesi sebagai bloger, semuanya jadi teman online saya? Ya engga.

Kamu harus tau juga.

Temenan itu dua arah.

Dianggap teman itu satu arah.

Kamu mungkin merasa berteman dengan semua orang yang satu profesi dengan kamu, teman online atau offline. Tapi kamu harus tau juga, ada banyak orang termasuk saya yang tidak merasa harus demikian. Gini deh. Pandji Pragiwaksono punya blog, terus saya jadi berteman dengan dia? Tentu tidak. Saya tahu dia. Hanya tahu. Bukan lantas menjadi teman.

6. Bagiku Ada Perbedaan Istilah Bloger dan Konten Kreator (Konten Writer).

Baca tulisan mas Lim Suandi di bagian perbedaan bloger dan konten kreator ini, saya beneran gak paham dengan apa yang dia sampaikan. Membahas konten kreator tapi contohnya hanya yutuber – yang kemudian mengatakan konten kreator gak pernah membuat kegiatan perkumpulan. Apa maksudnya tolong jelasin.

Buat saya.

Ketika membuat blog, tentu harus ada tulisan.

Tulisan tersebut adalah sebuah konten / isi.

Begitupun, ketika membuat twitter / instagram, tentu harus ada isinya.

Foto, video, atau teks, semuanya adalah konten.

Konten tersebut mau disampaikan ke orang lain, dibaca, dilihat, diinfokan ulang ke orang lain – yang kemudian akan terbagi menjadi : ada yang tertarik atau tidak tertarik.

Sebuah kalimat yang saya ambil dari tulisan mas Lim,

“Kebanyakan bloger merupakan perkumpulan orang yang bertugas meng-influence orang lain dengan tujuan tertentu. Komunikasi yang terjadi harusnya dua arah. Justru bentuk terbaik dari para bloger adalah saling mendukung. Misalnya kamu bertemu sama teman baru sesama blogger, pasti saling mengajak untuk follow.”

Maaf, saya tidak merasa punya tugas meng-influence orang lain. Mas-nya punya?

Saya punya tujuan ngeblog, mengabadikan ingatan pikiran dan kehidupan saya di sebuah halaman internet – yang kemudian bisa dibaca oleh banyak orang. Saya nulis karena saya butuh nulis, saya suka nulis, saya rasa harus nulis. Mas-nya gimana?

Bentuk terbaik para bloger adalah saling mendukung? Tidak. Saya, mendukung diri saya sendiri untuk tetap menulis blog. Jika kemudian ada teman-teman yang turut mendukung, artinya mereka sudah melihat sesuatu dari apa yang sudah saya tulis. Perlu saya ingatkan kembali, kata saling mengartikan dua arah. Jika saya suka dan mendukung karya teman saya di internet (misal tulisan blog), kemudian dia tidak menyukai karya saya, itu bukan saling. Saya gak berkewajiban untuk suka, diapun begitu.

Bertemu sama teman baru sesama bloger, pasti saling mengajak untuk follow? Kata “pasti” dan “saling” harus saya ingatkan : jangan terlalu percaya diri dengan apa yang disampaikan, mas. Faktanya, saya pernah ikutan saling follow setelah acara bloger – yang kemudian saya lelah lihat isi medsos teman-teman saya karena isinya iklan semua dan bertebaran hastag. Hasilnya, saya mute mereka, nyampah!

——————-

7. Penutup.

Menulislah sesuai apa yang teman-teman bisa dan suka.
Lanjutkan, jika memang waktunya tersedia.

Bertemanlah sesuai apa yang  diingini untuk memperbanyak hubungan sosial.
Bukan memperbanyak angka follower dan beranggapan tidak difollow karena konten tidak menarik atau tidak terkenal.

Banyak mau, boleh, banyak menilai dan menyimpulkan sesuatu, silahkan.
Tapi, mengenal diri sendiri kemudian memberi nilai untuk diri sendiri, keharusan.

Teman-teman, saya bertanggung jawab penuh dengan apa yang saya sampaikan di sini, juga di tulisan blog saya yang lain. Jika mas Lim Suandi meminta saran sebelum diminta, tulisan ini sudah melakukannya. Jika ada kesalahan penulisan, silahkan tegur. Jika ada kalimat kasar, silahkan informasikan. Pun, untuk siapa saja yang membaca ini ; terima kasih. Ingat, tidak perlu berlapang dada untuk membaca tulisan ini, juga tulisan saya yang lainnya. Cukup kuota internet dan kemauan aja.

LAFYU ❤

Advertisements

28 thoughts on “Berteman (Tidak) Sebatas Konten

    • Sengaja sih sebenernya. Biar gak terlihat kaya perdebatan. Hmm tapi setelah dipikir2 kayanya lebih baik aku edit ya, nanti aku info di atas ya. Makasih loooh ❤

      Like

  1. MasyaAllah.. Suka nih Saya tulisan yang beginian..
    jujur dan membahas semua keresahan dalam dunia blogging dan sosmed..
    Kalau Saya pribadi, Saya suka sebuah kutipan dari seorang Ustadz yang semasa kuliahnya dia membangun blog, yakni “Menulislah, agar orang dimasa yang akan datang tau bahwa kau pernah hidup di masa lalu.”

    Like

    • Mampir kesini karena beberapa hari terakhir, timeline Twitter saya cukup sering dipenuhi dengan cuitan yang mbahas “mas-mas” ini.

      Kalau masalah follow dan follow balik, saya juga sependapat sama dirimu, mbak. Misal konten yang disajikan si pemilik akun nggak menarik, saya juga nggak tertarik buat follow mereka.

      Satu lagi, kayaknya kemarin juga mbahas masalah retweet, like–atau apa itu di timeline–sebagai salah satu bentuk support sesama bloger. Ya, bener, sih. Tapi misal materi yang dishare kurang “nyantol” di hati kita, masak kita wajib ngasih love / retweet?

      Liked by 1 person

      • Katanya masnya,

        Retweet = cara paling sederhana untuk saling mendukung sesama bloger.

        Buat aku, itu adalah cara paling manja. Diri sendirinya aja gabisa mendukung tulisan sendiri, kok langsung ngarep dukungan dari orang lain.

        Aku sering share tulisan baru di twitter. Temen2ku gak pada retweet kok, tapi kita semua baik2 saja, bentuk dukungan tidak perlu spam retweet.

        Baca, komen. Itu baru dukungan.

        Liked by 2 people

  2. yeayyy … tulisannya dalam bangettt
    hebat neng Fasya ….. saya setuju.
    saya ngga pernah mikirin seperti ini …. buat blog karena suka nulis, moto2 dan simpan memori jalan2 saya … bisa dibaca kapan saja dimana saja …. ehh seiring perjalanan waktu ternyata ada juga yang suka … allhamdulillah … banyak juga yang support dan suka nanya2 kalau dalam beberapa waktu tulisan baru tidak muncul2 (padahal orang itu tidak pernah komen selama ini) …

    Like

  3. Setuju dengan teh fasya!
    Aku juga mulai menerapkan seperti itu. Memfollow atas kemauan sendiri, bukan karena sungkan (ngerasa wajib memfolbek balik karena satu komunitas).
    Dan kujuga berharap difollow dengan alasan yang sama: berminat dengan postinganku/ingin berinteraksi di medsos, bukan karena kita sekomunitas lantas harus saling memfollow di medsos (sekadar ingin nambah follower)

    Like

    • Nah itu, timbal balik.

      Aku juga berharap teman-teman yang follow aku karena berminat dengan postinganku dan mau berinteraksi, bukan cuma karena aku bloger terus yauda follow aja deh padahal mereka gak suka dengan konten aku.

      Like

  4. Yahh tadi aku udah komen malah ilang karena pakai hp haha

    I stand for fasya! *halah

    Jadi waktu beberapa hari yang lalu aku tanya ditwitter akun ig yang gimana yang worth to follow, itu kan ka fasya bilang ya yang sesuai kebutuhan ya. Kalo butuh pasti suka.

    Sama halnya kayak beberapa poin yang ada diatas. Ketika ga suka anime, ya ga butuh konten anime. Lantas harus apa follow.

    Sama halnya kayak aku yang banting setir jadi beauty blogger wkwkw
    Banyak temen blogger laki laki yang kalo main ke blogku bingung mau komen apa waktu aku ngepost makeup, karena mereka ga butuh info itu? Lantas mereka apa wajib blog walking dan ninggalin komentar diblog ku? Tentu tidak.

    Di instagram pun begitu.

    Kalau lagi event yang follow follow an dan wajib follow back, aku lebih banyak ngemute setelah acara kalau kontennya nggak sesuai kebutuhan. Dan ya itu adalah hak kita.

    Suka bingung sama istilah blogger lama blogger baru pun, padahal kalo tetep nulis konsisten ya tetep sama blogger. Nulis ga konsisten jg tetep blogger, yah meskipun jadi blogger mager wkwkwkwk

    Intinya yg aku ga setuju dari masnya itu adalah dia sendiri meng kotak-kotakkan istilah blogger.

    Ingin didukung, tapi malah kayak memojokkan diri sendiri.

    Like

    • Pertama, makasih nih komen kamu selalu puanjang poll! Hahaha.

      Kedua, follow siapapun yang dibutuhkan dan disuka, sebenernya untuk memfilter jenis informasi yang kita terima sih ya. Tapi kalau mas-nya tida demikian, silahkeun.

      Ketiga, iyesss istilah bloger pemula yang disampaikan di tulisan masnya bikin bingung. Apa yang dimaksud pemula? Baru bikin blog? Udah ngeblog lama tapi gada konten menarik dan ngerasa masih jelek? Atau apasih, tau dah.

      Empat, aylapyu Liiii ❤

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s